Allah
berfirman:
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S Ali Imran ayat 104)
Makna yang
dimaksud dari ayat ini ialah hendaklah ada segolongan orang dari kalangan umat
ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, sekalipun urusan tersebut
memang diwajibkan pula atas setiap individu dari umat ini.
Sebagaimana
yang disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim dalam sebuah hadits dari Abu
Hurairah. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda : “Barang siapa di
antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan
tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika masih tidak
mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” Di
dalam riwayat lain disebutkan : “Dan tiadalah dibelakang itu (selain dari itu)
iman barang seberat biji sawi pun.”
Termasuk ke dalamnya
adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak
orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang
menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah,
dewan hisbah (lembaga amr ma'ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah
untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara'
Penjelas tersebuat menegaskan bahwa dakwah itu
hukumnya fardhu kifayah. Hanya sebagian saja lah yang diwajibkan untuk
berdakwah, dan yang sebagian lagi menjadi madl`u (objek dakwah).
Adapun makna kebajikan (al khair) adalah segala
sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari
kemurkaan-Nya. Sedangkan, a'ruf yaitu segala perintah Allah atau yang dianggap
baik oleh syara' dan akal, dan munkar adalah segala yang dilarang Allah atau yang
dianggap buruk oleh syara' dan akal.
Nah, ketiga hal ini
kebajikan (khair), ma`ruf dan munkar itu adalah maudlu (materi dakwah) yang
harus disampaikan da`i kepada madl`unya. Namun ketiganya disampaikan dengan
cara yang berbeda. Jika khair dan ma`ruf itu disampaikan dengan disiarkan entah
secara persuasif atau sebatas pengetahuan saja. Sedangkan munkar itu
disampaikan dengan cara memberitahukan tidak boleh melakukan kemunkaran
tersebut.
Mereka inilah orang-orang
yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal
yang mereka khawatirkan. Terjemah penggalan ayat ini bermakna berarti
keberuntungan atau ganjaran bagi da`i yang telah menyampaikan maudlu`nya kepada
madl`u. Maka tidak heran jika kehidupan da`i tidak menghadapi kesulitan baik di
dunia ataupun
di akhirat.
Menurut Quraish sihab jalan terbaik untuk bersatu dalam kebenaran
di bawah naungan al-Qur'ân dan Rasul-Nya, adalah dengan menjadi umat yang
menyerukan segala bentuk kebaikan dunia dan akhirat, menyerukan kewajiban mendorong
manusia pada kebaikan bersama dan mencegah kejahatan (amar makruf nahi munkar,
al-amr bi al-ma'rûf wa al-nahy 'an al-munkar). Mereka yang melakukan prinsip
itu adalah orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang sempurna.
Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia
Untuk mencapai maksud tersebut perlu adanya segolongan umat Islam
yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan, bilamana
nampak gejala-gejala perpecahan dan penyelewengan. Karena itu pada ayat ini
diperintahkan agar supaya di antara umat Islam ada segolongan umat yang
terlatih di bidang dakwah yang dengan tegas menyerukan kepada kebaikan,
menyuruh kepada yang makruf (baik) dan mencegah dari yang mungkar (keji).
Dengan demikian umat Islam akan terpelihara daripada perpecahan dan
infiltrasi pihak manapun. Menganjurkan berbuat kebaikan saja tidaklah cukup
tetapi harus dibarengi dengan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Siapa saja
yang ingin mencapai kemenangan. maka ia terlebih dahulu harus mengetahui persyaratan
dan taktik perjuangan untuk mencapainya, yaitu: kemenangan tidak akan tercapai
melainkan dengan kekuatan, dan kekuatan tidak akan terwujud melainkan dengan
persatuan. Persatuan yang kokoh dan kuat tidak akan tercapai kecuali dengan
sifat-sifat keutamaan. Tidak terpelihara keutamaan itu melainkan dengan
terpeliharanya agama dan akhirnya tidak mungkin agama terpelihara melainkan
dengan adanya dakwah.
Maka kewajiban pertama umat Islam itu ialah menggiatkan dakwah agar
agama dapat berkembang baik dan sempurna sehingga banyak pemeluk-pemeluknya.
Dengan dorongan agama akan tercapailah bermacam-macam kebaikan sehingga
terwujud persatuan yang kokoh kuat. Dari persatuan yang kokoh tersebut akan
timbullah kemampuan yang besar untuk mencapai kemenangan dalam setiap
perjuangan. Mereka yang memenuhi syarat-syarat perjuangan itulah orang-orang
yang sukses dan beruntung.
reference:
tafsir ibnu katsir
tafsir Quraish Shihab
http://www.gudangmateri.com/2011/04/tafsir-ali-imran-ayat-104-berdasarkan.html
https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-104#diskusi
Komentar
Posting Komentar